bantencom

Mau Bikin Web?

Hosting Unlimited Indonesia

Direktur Utama PT The Master Steel Di Jerat KPK

Diposkan oleh On 17:42:00 with No comments

 Jakarta bantencom.com -Jaksa Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi (JPU KPK) menjerat hukuman lima tahun penjara kepada Direktur Utama PT The Master Steel Diah Soembedi. Pasalnya, Diah dinyatakan terbukti bersama-sama dengan Effendy Komala dan Teddy Muliawan, didakwa menyerahkan uang sebesar 600 ribu dolar Singapura kepada dua penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) perpajakan, Eko Darmayanto dan Mohammad Dian Irwan Nuqisra.
"Menuntut agar Majelis Hakim menyatakan terdakwa Diah Soemedi bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama, sebagaimana diancam dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a UU Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP," kata jaksa Iskandar Marwanto ketika membacakan surat tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (10/9).

Sebagai pertimbangannya, jaksa menganggap Diah terbukti memberikan uang sebesar 600 ribu dolar Singapura dengan tujuan menghentikan penyidikan perkara pajak PT The Master Steel (MS). Uang itu bagian dari imbalan sebesar Rp10 miliar yang dijanjikan Diah atas kesepakatan yang terjadi di Hotel Borobudur, Jakarta.
Dalam tuntutan dipertegas, perkara suap itu berawal dari penemuan bukti permulaan kesalahan pajak PT MS tahun 2008 oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Jakarta Timur dari hasil pemeriksaan dan temuan tahun 2011. pada saat itu, PT MS diduga sengaja menutupi data pajak berupa transaksi senilai Rp1,003 triliun yang dicatat sebagai pinjaman dari Angel Sitoh (Warga Negara Singapura).
Padahal, transaksi itu merupakan transaksi penjualan yang seharusnya dicatat sebagai penerimaan. Jadi, diduga PT MS menutupi data tersebut agar pembayaran pajak tahun 2008 menjadi lebih kecil. Belakangan, Diah mengakui kesalahan dan membayar pajak terutang ditambah denda 150 persen sebesar Rp 165 miliar. Kemudian, oleh tim Bukti awal dilaporkan ke Kepala Kanwil DJP Jakarta Timur, Hario Damar.
Namun, kira-kira Desember 2012 terjadi pergantian Tim Buper menjadi Mohammad Dian Irwan Nuqisra dan Eko Darmayanto. Terhadap keduanya, pihak PT MS menolak memberi keterangan atau data-data perihal transaksi sebesar Rp1,003 triliun. Akibatnya, Kanwil DJP Jakarta Timur menerbitkan Surat Perintah Penyidikan (Sprindik) tertanggal 2 April 2013.

Terkait terbitnya sprindik tersebut, pada 25 April 2013, terdakwa mengadakan pertemuan dengan Eko, Dian, dan Ruben Hutabarat (konsultan pajak PT MS) di restoran lantai 3 Hotel Borobudur. Dalam pertemuan itu, terdakwa Diah meminta bantuan kepada Eko dan Dian agar penyidikan dihentikan dengan kesepakatan imbalan sebesar Rp40 miliar dan mengintruksikan kepada Effendy untuk mengatur cara penyerahan uang.
Kemudian, pada akhir April 2013, terdakwa Diah link kepada Eko bahwa akan menyerahkan Rp10 miliar sebagai uang muka pada 7 Mei 2013. Tapi, akhinya pemberian baru terealisasi sebanyak 600 ribu dolar Singapura yang dilakukan dalam dua tahap. Pertama, 7 Mei 2013 sebesar 300 ribu dolar Singapura dan 15 Mei 2013 dengan jumlah yang sama.
Penyerahan pertama dilakukan Effendy di parkiran Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Setelah menerima uang tersebut, Eko sengaja mengirim berkas perkara pajak milik PT MS yang tidak lengkap ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Tujuannya, berkas perkara dikembalikan jaksa. Karenanya, perkara tersebut dapat diterbitkan Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan (SP3). Penyerahan kedua dilakukan Teddy di parkiran Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
Menanggapi, tuntutan jaksa tersebut, terdakwa Diah dan penasihat hukumnya akan mengajukan pledoi (nota pembelaan) dalam sidang selanjutnya yang akan berlangsung pada 17 September pekan depan.

                                                                                              (Budianto bantencom.com)


Next
« Prev Post
Previous
Next Post »