bantencom

Mau Bikin Web?

Hosting Unlimited Indonesia

Konsolidasi Politik Hasilkan Korupsi

Diposkan oleh On 16:44:00 with No comments

Serang, bantencom - Selama tahun 2013, sejumlah partai politik mulai melakukan konsolidasi politik dalam rangka menghadapi pemilu 2014, baik pemilu legislatif maupun pemilihan presiden. Konsolidasi politik ini membutuhkan dana yang tidak sedikit, sehingga tokoh-tokoh parpol di kabinet SBY mulai mendesain program-program yang menguntungkan partai dengan beragam trik yang tidak terbaca oleh publik. Sayangnya, konsolidasi politik seperti ini berujung pada prilaku korup sejumlah elit politik dan tokoh-tokoh partai yang berkuasa. Demikian disampaikan Direktur Lembaga Konsultan Politik Indonesia (LKPI) Dendy Susianto dalam diskusi akhir tahun Barisan Nusantara sore ini (29/12/2013) di Sekretariat Barisan Nusantara, Perumahan Buncit Indah, Pejaten Barat, Jakarta.

"Tahun 2013, konsolidasi politik menghasilkan sejumlah kasus korupsi yang melibatkan banyak tokoh publik", tegas Dendy. Sejumlah tokoh publik, lanjut Dendy, seperti Anas Urbaningrum, Lutfi Hasan Ishaq, sampai mantan Ketua MK Akil Mochtar, terkait dengan proses-proses konsolidasi politik yang berujung pada prilaku korup. Akibat dari proses konsolidasi politik yang menghasilkan prilaku korup ini, menurut Dendy, berdampak pada masyarakat di tingkat bawah. Masyarakat menjadi sangat sinis terhadap tokoh-tokoh politik. Di kalangan masyarakat beredar asumsi bahwa siapapun yang masuk ke dunia politik tidak ada yang bersih. Akibatnya, ketika tokoh-tokoh politik datang menemui masyarakat di tingkat bawah, masyarakat pun menghadapkan adanya insentif uang.

Dendy juga menegaskan bahwa proses pergantian kepemimpinan nasional sejak berakhirnya rejim Orde Baru selalu berjalan dalam sebuah rangkaian melodrama politik. Terpilihnya Gus Dur juga berawal dari sebuah melodrama politik dimana setelah terpilihnya Gus Dur, publik mulai melihat bahwa Gus Dur sebagai presiden yang tidak ideal karena berbagai keterbatasan, termasuk keterbatasan fisik. Naiknya Megawati sebagai presiden juga kemudian melahirkan melodrama politik bahwa ternyata Megawati adalah presiden yang tidak cakap dan tidak pintar. Karena itu, ketika SBY muncul ke publik, SBY diharapkan mampu memenuhi kedahagaan publik atas figur presiden yang ideal, yakni gagah, ganteng, santun, cerdas, dan pintar.

Sayangnya, lanjut Dendy, figur SBY yang demikian tidak disertai dengan kinerja yang baik, tidak tegas, serta lambat dalam pengambilan keputusan. Kondisi inilah yang melahirkan melodrama politik mutakhir bahwa masyarakat kemudian melihat figur Jokowi yang dianggap bisa bekerja dengan baik. Jokowi juga bisa merakyat, bersih dan tidak korup, serta dekat dengan dengan rakyat. Nah, citra Jokowi dalam melodrama politik ini ternyata lebih kuat sehingga Jokowi menjadi cukup populer sebagai calon presiden 2014.

Disamping itu, Dendy Susianto menegaskan bahwa prediksi kontestasi politik 2014 akan melahirkan PDIP dan Golkar sebagai pemenang pemilu. Kemudian diikuti oleh parpol menengah seperti Gerindra, PAN, PKB, PBB, PKS. Sementara parpol baru seperti Nasdem akan berada di urutan bawah. Untuk calon presiden, Dendy memprediksikan bahwa calon presiden akan mengerucut pada tiga faksi besar, yakni pertama, calon presiden dari PDIP dan parpol pendukungnya; kedua, calon presiden dari Golkar dan parpol pendukungnya; serta ketiga, calon presiden dari poros inspiratif. Poros inspiratif ini mengacu pada kekuatan di luar dua kekuatan politik mainstream, dengan calon presiden yang muda, bersih, dan visioner. Anies Baswedan, menurut Dendy bisa masuk dalam poros inspiratif ini. 




Bc4 
bantencom "civil journalism for indonesia chanel"

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »