bantencom

Mau Bikin Web?

Hosting Unlimited Indonesia

Imlek Berimbas Pada Pengusaha Pribumi

Diposkan oleh On 01:21:00 with No comments

Serang, bantencom - Pasar dan pusat perbelanjaan di Royal Serang, Banten, terlihat lengang karena hampir seluruh toko di lokasi tersebut terlihat tutup. Para pedagang ini sedang merayakan tahun baru Cina atau Imlek 2565 Kongzili, Jumat (31/1/2014). Hal itu terjadi karena kebanyakan pemilik toko di pusat perbelanjaan tersebut berasal dari etnis Tionghoa yang sedang merayakan Imlek bersama keluarganya di rumah mereka.

Padahal banyak sekali konsumen yang datang untuk mencari barang, terutama pemilik bengkel kecil yang mencari sparepart motor.

Seperti yang diutarakan Rasiman, pemilik bengkel kecil di desa Pelawad  mengatakan kepada bantencom,"Saya mutar-mutar cari toko spare part motor, semua pada tutup padahal saya butuh spare part motor buat motor langganan saya", katanya.

Rasiman mengaku tidak tahu kalau hari ini adalah tahun baru Cina atau Imlek, dimana para pedagang terutama etnis Tionghoa yang mayoritas menutup tokonya. " Saya lupa kalau hari ini adalah Imlek, pantasan banyak sekali toko yang tutup", katanya sambil berlalu dengan raut wajah terlihat kecewa.

Ditempat lain, pertokoan banyak yang tutup berdampak juga pada penghasilan Wawi 27 tahun, pria asal Ciruas yang berprofesi sebagai juru parkir di pasar Ciruas. Dia mengaku dengan banyaknya pertokoan yang tutup sangat berimbas dengan penghasilannya. " Kalau hari biasa lumayan Pak, penghasilan Saya paling sedikit 30ribu  sampai 50ribu bisa saya bawa pulang, tapi hari ini sampi sesore ini cuma dapat 15ribu. Karena toko yang biasanya banyak dikunjungi konsumen tutup, lagi hari Imlek sih", katanya.

Lebih lanjut Wawi mengatakan, hal ini disebabkan para pemilik toko didominasi orang Cina dan hanya sedikit sekali pemilik toko yang berasal dari pribumi. "Soalnya para pemilik toko ini kebanyakan punya orang Cina, makanya sangat berimbas sekali ke Saya", kata pria berkumis tipis dan selalu memakai topi ini.




Bc4
bantencom "civil journalism for Indonesia Chanel"
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »