Mau Bikin Web?

Hosting Unlimited Indonesia

ANTARA PKI DENGAN SYETAN, MIRIPKAH..?

Diposkan oleh On 11.18.00 with No comments

bantencom, - Cukup alasan menganalogikan PKI dan syetan, karena terdapat banyak 'hubungan kesamaan' diantara keduanya.

Sama-sama berjuang agar manusia tidak bertuhan dan atau tidak menjalankan  hidup dan kehidupan sesuai dengan tuntunan Illahi.
Sama- sama menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
Bahkan PKI jauh lebih syetan dari syetan dalam wujud jin, karena untuk mencapai nafsu syaetaninya, mereka mampu dan siap melakukan perbuatan sekeji dan sekejam apapun, termasuk membantai siapapun yang menghalangi mereka dalam mencapai tujuan.

Fakta sejarah membuktikan, Oktober 1945, sekelompok pemuda PKI membantai beberapa pegawai pemerintahan di Tegal, menguliti dan membunuh dengan sadis Pak Bupati.
Gerakan PKI pernah berupaya merebut kekuasaan di Slawi, Pekalongan, Tegal, Serang, Brebes, Cirebon, Pemalang dan berbagai daerah lainnya di Tanah Air.

Dalam upaya  menguasai  negeri, tak ubahnya  orang-orang yang kesetanan, mereka pun membantai masyarakat dan tokoh-tokoh pejuang. Mereka bunuh dengan keji Gubernur Suryo, tokoh sentral peristiwa di Surabaya, Bupati Lebak dan Sultan Langkat. Tokoh Nasional Otto Iskandardinata juga diculik lalu di bunuh tanpa seorangpun yang berhasil menemukan jasadnya.

Para Ulama, tentu saja menjadi musuh terbesar mereka.

Buya HAMKA, Moh.Natsir, KHEZ Muttaqien dan berapa tokoh Ulama lainnya dijebloskan ke penjara. Mereka dikriminalisasi atas dasar fitnah dari kalangan PKI yang sangat dekat dengan Pemerintah di saat itu.

Pembantaian terhadap para kiyai di Gontor.

Aktifis masyumi H. Dimyati yang digorok lehernya. Kesaksian Isra dari Surabaya yang Ayahnya diseret ke sawah lalu dibantai beramai-ramai sehingga jasadnya hancur lebur, sebagian dimakan anjing dan sebagian lagi berhasil diselamatkan oleh sang anak untuk kemudian dimasukkan kedalam kaleng.
Atau kesaksian lainnya dari Moch Amir, dimana keempat sahabatnya yang aktifis da'wah dipotong kemaluannya sebelum kemudian  dibantai.
Masih banyak lagi tragedi dan kesaksian yang dicatat sejarah dari kekejaman dan kebiadaban manusia-manusia yang tidak ber Tuhan ini.
Pemberontakan PKI di Madiun 1948, dan peristiwa G 30 S PKI, sudah sangat lebih dari cukup untuk membuktikan kekejian dan kekejaman mereka.
Last but not least, pembantaian yang sangat sadis terhadap 7 jenderal TNI di Lubang Buaya yang membuat terluka dan tercabik-cabiknya perasaan setiap manusia yang masih berjiwa manusia, bukan berjiwa syetan bahkan lebih dari syetan seperti mereka.

Betapa lebih tersayat lagi rasanya hati ini, ketika  para Ulama dan tokoh masyarakat yang berusaha mengingatkan semua pihak agar waspada terhadap keberadaan dan bangkitnya kembali PKI, malah oleh sebagian orang dianggap seperti membicarakan hantu yang menakutkan tanpa jelas wujudnya.
Sebagian lagi menganggapnya sebagai upaya yang  meng ada-ada .
Bahkan ada pula yang dengan lantang menuduh mereka yang ingin menyelamatkan negeri dari ancaman PKI yang sudah semakin terang benderang wujudnya, sebagai orang yang  "Kurang kerjaan" dan hanya buang- buang waktu .

Ada juga yang mengakui, tapi menurut mereka, keberadaannya saat ini, tidaklah jauh berbeda dengan bayang-bayang yang senantiasa mengikuti jejak kita, yang terkadang lari bila di kejar, dan bersembunyi jika dicari.

Bagi mereka yang berakal dan berjiwa sehat, keberadaan PKI saat ini bukanlah sekedar bayangan yang menipu, tapi sesuatu yang wujudnya sudah sangat nampak terutama dalam percaturan politik di negeri ini.
Perjuangan mereka untuk kembali eksis dalam mewarnai kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Republik ini, sudah sangat terasa terutama dalam upaya mereka  memenuhi janji-janji kampanye menjelang pilpres 2014 yang lalu.
Begitu sangat nyaringnya suara mereka menolak  nilai-nilai Agama  mewarnai kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Kebencian terhadap Agama acapkali secara fulgar mereka tunjukkan lewat ocehan-ocehan mereka  yang syarat dengan penghinaan dan penodaan terhadap kesucian Agama.
Sesuai dengan janji kampanye 2014, orang-orang yang tidak beragama ini pun terus berjuang untuk menghapus kolom Agama di KTP. Kendati belum berhasil karena ummat beragama menolaknya, namun sementara ini mereka cukup puas dengan berhasil mencantumkan kolom kepercayaan di KTP, dimana yang tidak berTuhan dan atau yang tidak  beragama, sementara merasa cukup nyaman berada di kolom tersebut.

Merekapun seperti tidak mengenal lelah dan putus asa, berjuang untuk menghapus PERDA Syariah, yang dulu diperjuangkan ummat Islam dengan menguras energi yang tidak sedikit, baik tenaga, harta dan fikiran, demi menyelamatkan moralitas khususnya generasi muda di negeri ini.

Upaya agar orang nomor  satu di negeri ini menyampaikan pidato permohonan maaf kepada keluarga PKI, konon sudah matang dipersiapkan namun belum berhasil diwujudkan. Maraknya peredaran  buku-buku komunis yang untuk kesekian kalinya diamankan pihak TNI.
Dihapusmya mata pelajaran sejarah pada segmen Pemberontakan dan Penghianatan G 30 S PKI, bersamaan dengan upaya pemutarbalikan sejarah, dimana seakan-akan merekalah sebenarnya yang menjadi korban.
Inilah watak asli komunis. Dalam posisi mereka yang  masih lemah dan  selama  kekuasaan belum  berhasil  diraih, mereka bisa tampil dengan  bermuka dua atau bahkan lebih dari tiga wajah.
Mereka halalkan segala cara, dari berbohong, menipu, menyebarkan fitnah dan dengan menjungkir-balikkan fakta sejarah. Tak ubahnya syetan dalam wujud jin, yang lewat bisikan-bisikannya senantiasa berupaya agar yang batil tampak seperti benar.  Yang benar dikesankan sebagai bathil. Kekufuran, dosa dan maksiat dipoles sedemikian rupa, sehingga diyakini sebagai sesuatu yang wajar lagi lumrah,  bahkan  sangat baik dan bermaslahat.  (Q.S. Al 'Ankabuut 38, Al An'aam 43, An Naml 24 Al Anfaal 48)

Mereka juga begitu sangat ngototnya berupaya untuk menghapus Tap MPRS nomor XXV tahun 1966 tentang pembubaran PKI dan larangan berkembangnya  faham komunisme, lenisme dan Marxisme di negeri ini.
Termasuk upaya terselubung yang kini sedang  mereka  perjuangkan  dibalik RUU Haluan Ideologi Pancasila.
Jika PKI gagal dalam pemberontakan di Madiun tahun 1948, yang kemudian mereka coba lagi dengan G 30 S PKI di tahun 1965, maka siapa yang bisa menjamin jika mereka tidak akan lagi melakukan pemberontakan dan penghianatan terhadap NKRI besok, lusa dan dimasa-masa mendatang ? Sementara keberadaan mereka kini sudah tampak jelas, bukan seperti hantu yang tidak tampak wujudnya.

Karenanya, mari rakyat Indonesia yang benar-benar mencintai negri ini, yang selama ini berjuang bagi keutuhan NKRI, khususnya para Ulama dan ummat Islam, bangkitlah dari tidur yang berkepanjangan, lemparkan segera selimut ketidak-perdulian. Enyahkan dari fikiran mimpi-mimpi yang penuh tipu-daya. Jangan perdulikan ocehan-ocehan mereka yang menyatakan, bahwasanya mewaspadai kebangkitan kembali PKI di negeri ini sebagai mengada-ada, kurang kerjaan dan hanya buang-buang waktu saja .

Jangan-jangan mereka yang beranggapan seperti itu, benar-benar masih lelap tidur dalam mimpi indah meraih kebahagiaan semu yang dipropagandakan PKI dan janji-janji manis komunis China yang semakin merajalela di negeri ini.                       *) Advokat, praktisi hukum, pengamat hukum sosial kemasyarakatan.  Serang, Banten 29 Mei 2020.
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »